Risalah
 

 

 

Home

Sejarah

Agenda

Risalah

Organisasi

AD-ART

Kegiatan

Gallery

Link

 

Edisi Okt 00

Edisi Agt 00

Nasehat Rasulullah SAW

Jelajah

Profil Tokoh

Hikmah

 


Nasehat Rasulullah SAW

Optimis

              Rasa bahagia dan sengsara, cemas dan tenang yang dialami seseorang, muncul dari dirinya sendiri. Dirinya sendirilah yang memberi warna pada kehidupannya, dengan warna cermelang dan bercahaya atau pudar dan gelap. Rasulullah pernah membesuk seorang Arab dusun yang sedang menderita demam tinggi. Beliau memegang tubuh orang itu, lalu menghiburnya, “Semoga baik-baik saja …penyakitmu ini menjadi penawar dosamu.” Tapi hiburan Rasulullah itu ternyata ditanggapi keliru oleh orang tua tersebut. “Bagaimana ini dikatakan baik. Ini adalah demam yang mendidih. Menimpa seorang tua yang renta dan akan menyeretnya ke liang kubur,” katanya. Mendengar keluhan orang itu, Rasulullah mengatakan, “Kalau begitu, yang begitulah jadinya.”
             Rasulullah mulanya ingin mengajak orang tua itu memberi warna cemerlang dan terang dalam diri orang tersebut, dengan memberi pandangan positif terhadap penyakit yang dideritanya. Rasulullah ingin pandangan orang tua itu berubah dan bisa memunculkan harapan yang lebih baik, di balik penderitaannya. Karena memang, setiap masalah itu tunduk pada anggapan atau opini yang bersangkutan. Anda bisa menjadikan suatu masalah itu sebagai musibah terburuk yang sangat membuat gelisah dan kesedihan mendalam. Anda juga bisa menjadikan masalah yang sama sebagai pertanda kebaikan dan menggembirakan.
             Semua kejadian dalam hidup tak pernah melampaui batas itu. Nilai suatu pekerjaan, bahkan nilai si pekerja itu sendiri sangat berkaitan erat dengan pikiran yang berputar di otak dan perasaan yang berkecamuk dalam jiwanya.
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa rela maka baginyalah kerelaan, dan barangsiapa benci maka baginyalah kebencian.” (HR. Turmudzi)
             Seorang psikolog Barat, Dale Carnagie mengatakan, “
Pikiran kitalah yang membentuk pribadi kita. Arahkan pikiran kita pada faktor utama yang menentukan perjalanan hidup kita.
             Jika kita memikirkan kebahagiaan, kita akan bahagia. Kalau kita memikirkan kesedihan, kita akan menjadi sedih. Kalau kita berpikir takut, maka kita pun akan takut. Kalau kita berpikir sakit, kita juga akan menjadi sakit. Dan seterusnya

back to top

 

 

 

 


Jelajah

Islam in USA

           Di daerah Silicon Valley (Santa Clara, San Jose) banyak bertumbuhan masjid dan perkumpulan muslim. Telecom Valley di daerah Sonoma County (meliputi Petaluma, Santa Rosa) sudah mulai muncul banyak muslim, meskipun mayoritas imigran dari Pakistan dan Timur Tengah.
          Terdengar di daerah Santa Clara masjidnya cukup besar dan terletak di kawasan bisnis dunia (perlu diketahui daerah Silicon Valley ini salah satu motor ristek Hi-Tech dan ekonomi dunia, di antara -nya terdapat markas besar Intel, HP, Sun, Cisco, dsb.). Bahkan sempat muazzin di masjid disana berazan di luar menggunakan speakar!. Luar biasa.
           Perkembangan Islam di Petaluma juga menunjukkan kemajuan. Di kota yang mulai dikenal sebagai Telecommunication Valley dan "Silicon Valley Kecil" ini sejumlah umat Islam sudah bersiap membangun masjid. Saat ini sejumlah muslim disana mengadakan sholat Jumat rutin. Juga telah berdiri sekolah dasar Islam. Pengajarnya adalah para profesional engineer muda berasal dari Pakistan dan Timur Tengah.
           Berdasarkan data di bawah, menunjukkan perkembangan jumlah muslim di USA adalah nomor tiga terpesat di dunia. Nomor pertama adalah di Australia (karena banyak imigran Indonesia dan negara lainnya). Nomor dua adalah Eropa (terbanyak di Perancis).
                                                                    
      
back to top

 

 

 

 

 


Profil Tokoh

IMAM MUSLIM

           Ulama dengan 300.000 hadits di kepalanya Keharuman namanya tak akan pernah hilang sepanjang zaman. Dalam setiap     ceramah, hampir semua ustadz selalu mengutip karya-karyanya.Beliau adalah    ulama kenamaan, terutama dalam bidang dan ilmu hadits. Nama lengkap    berikut silsilahnya adalah Imam Abu al-Husain Muslim bin Muslim bin  Kausyaz al-Qusyairi al-Naisaburi. Lahir tahun 204 H/ 820 M atau menurut      riwayat lain 206 H/ 822 M.
      Beliau dinisbahkan kepada nenek moyangnya, Qusyair bin Ka'ab bin Rabiah       bin Sha'sha'ah, suatu keluarga bangsawan besar di wilayah Arab. Di samping    (penisbahan) kepada Qusyair, beliau juga dinisbahkan kepada Naisapur. Hal    ini karena beliau putera kelahiran Naisapur, yakni kota kecil di Iran bagian timur laut.
      Pengembaraan• Semenjak berusia kanak-kanak, Imam Muslim telah rajin      menuntut ilmu. Didukung kecerdasan luar biasa, kekuatan ingatan,kemauan       yang membaja,dan ketekunan yang mengagumkan, konon ketika berusia10       tahun, beliau telah hafalan Al-Qur'an seutuhnya serta ribuan hadits berikut       sanadnya. Sungguh prestasi yang teramat mengagumkan.
           Seperti halnya Imam al-Bukhari, Imam Muslim juga mengadakan pengembaraan       intelektual ke berbagai negeri Islam, seperti Hijaz, Iraq, Syam,Mesir, Baghdad, dan lain-lain guna memburu hadits dan berguru pada ulama-ulama       kenamaan. Beliau telah mengunjungi hampir seluruh pusat pengkajian hadits       yang ada pada saat itu, bahkan terkadang dilakukannya berkali-kali,       seperti ke Baghdad. Semua ini merupakan bukti konkret bahwa perhatian Imam       Muslim terhadap peninggalan Nabi saw yang monumental ini sangat besar.
      Pengembaraan perdananya dimulai ke Makkah pada tahun 220 H sekaligus  menunaikan ibadah haji. Kemudian pada tahun 230 H beliau melakuka   pengembaraan intelektual yang secara spesifik untuk kepentingan  hadits. Sedang lawatannya yang terakhir terjadi pada tahun 259 H ke Baghdad saat   usianya mencapai 53 tahun. Dalam pengembaraannya itu, beliau tidak  mengenal usia. Semenjak usia yang relatif masih sangat muda sampai berusia  senja, beliau tidak pernah berhenti apalagi putus asa dalam  pengembaraannya mengejar dan memburu Hadits Nabi saw.
       
Guru dan muridnya
       Dalam lawatan intelektualnya, Imam Muslim tercatat banyak mengunjungi  ulama - ulama kenamaan, tentunya dalam rangka mencari hadits. Beliau berguru  kepada Yahya dan Ishak bin Rahawaih di Khurasan, Muhammad binMahran dan Abu Ghassan di Ray, Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah di Iraq,  Said bin Manshur dan Abu Mas Uab di Hijaz, Tamr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya di Mesir.  Beliau juga belajar dari Usman dan Abu Bakar (keduanya putra Abu Syaibah) ,Syaiban bin Farwakh, Abu Kamil al-Jury, Zuhair bin Harb, Amr al-Naqid,  Muhammad bin al-Mutsanna, Muhammad bin Yasar, Harun bin Saidal-U Aili, Qutaibah bin Sa'id, dan yang tak boleh terlupakan beliau juga berguru pada  Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari. Tidak sedikit para ulama yang meriwayatkan hadits dari ImamMuslim. Di  antaranya terdapat ulama-ulama besar yang sederajat dengannya,seperti Abu  Hafidh al-Razi, Musa bin Harun, Ahmad bin Salamah, Abu Bakar bin   Khuzaimah, Yahya bin Said, Abu Tawwanah al-Ishfiroyini, dan Abu Isa al-Tirmidzi. Selain ulama-ulama di atas, yang juga tercatat sebagai murid Imam Muslim   antara lain; Ahmad bin Mubarak al-Mustamli, Abu al-Abbas Muhammad bin  Ishak bin al-Siraj. Di antara sekian banyak muridnya itu, yang paling   istimewa adalah Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan, seorang ahli fiqih lagi  zahid. Ia adalah perawat utama kitab Shahih Muslim.
       Selain karya besar Imam Muslim yang sangat monumental, yaitu kitab Shahi   Muslim, beliau juga tercatat mempunyai buah karya lebih dari 20; antara  lain: al-Ullal, al-Aqran, al-IntifaUbi Uhub al-Siba, Kitab Man Laisa Lahu  Illa Rawin Wahid, Aulad al-Shahabah, Al-Musnad al-Kabir,Al-Thabaqat  (Thabaqat al-Kubra), Kitab al-Mukhadramin, Al- Jami Ual-Kabir, Kitab   al-Tamyiz, Kitab al-Asma wa al-Kuna, Kitab Su'alatihi Ahmad bin Hanbal, dan sebagainya.
           Banyak ulama yang memandang Imam Muslim sebagai ulama hadits nomor dua  setelah Imam al-Bukhari. Hal yang tidak mengherankan, mengingat Imam  Muslim merupakan murid Imam al-Bukhari.    Al Khatib al-Baghdadi mengatakan, Muslim telah mengikuti jejak al-Bukhari,  memperhatikan ilmunya dan menempuh jalan yang dilaluinya. Pernyataan ini   tidaklah berarti Imam Muslim hanyalah figur yang hanya mampu bertaqlid pada al-Bukhari, sebab Imam Muslim mempunyai ciri dan pandangan tersendiri  dalam menyusun kitabnya. Beliau juga mempunyai metode baru yang belum  pernah d iperkenalkan ulama sebelumnya.
         Imam Muslim banyak menerima pujian dan pengakuan dari para ulama Hadits mau pun ulama lainnya. Al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan dengan  sanad    lengkap dari Ahmad bin Salamah, katanya “Saya melihat Abu Zur'ah dan Abu  Hatim senantiasa mengistimewakan dan mendahulukan Muslim bin al-Hajjaj di  bidang pengetahuan hadits sahih atas guru-guru mereka.” Ishaq bin Rahawaih pernah memuji Imam Muslim dengan perkataannya “Adakah    orang yang seperti Muslim?” Demikian pula Ibn Abi Hatim menyatakan “Muslim  adalah seorang hafidh (ahli hadis). Saya menulis hadits yang di terima dari  dia di Ray.” Selanjutnya Abu Quraisy al-Hafidh menyatakan bahwa didunia ini, orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat,salah  satunya adalah Muslim. Tentunya, yang dimaksud dengan pernyataan ini  adalah ahli-ahli hadits terkemuka yang hidup pada masa Abu Quraisy.  
              Dengan munculnya berbagai komentar dari para ulama terhadap kepakaran Imam   Muslim dalam disiplin ilmu Hadits ini, cukuplah kiranya menjadi bukti awal    bahwa beliau memang figur yang pantas mendapat sanjungan yang  demikian,  dan tentunya setelah al-Bukhari.
         
Karya monumental
        Sejarah mencatat bahwa Imam Muslim merupakan ulama kedua yang berhasil menyusun kitab al-Jami' al-shahih yang di kemudian hari terkenal dengan  sebutan Shahih Muslim. Kitab ini berisi 10.000 hadits yang disebutkan  secara berulang-ulang (mukarrar) atau sebanyak 3.030 buah hadits  tanpa  pengulangan. Hadits sejumlah itu disaring dengan sangat ketat dari 300.000  buah hadits selama kurun waktu 15 tahun.  Berdasarkan kualitas keshahihannya, para ulama memasukkan karya Imam   Muslim ini pada peringkat kedua setelah karya monumental Imamal-Bukhari  (Shahih al-Bukhari). Hal ini karena syarat yang ditetapkan oleh Imam  Muslim relatif lebih longgar daripada syarat yang ditetapkan Imam  al-Bukhari. Dalam persambungan sanad (ittisal al-sanad) antara yang  meriwayatkan (rawi) dengan yang menerimanya (marwi'anhu) atauantara murid dan guru menurut Imam Muslim hanya cukup syarat mu'asharah (semasa), tidak  harus terjadi liqa' (pertemuan) antara keduanya.
             Sementara Imam Al-Bukhari  mensyaratkan terjadinya liqa ' untuk menyatakan terjadinya persambungan  sanad.  Shahih Muslim merupakan hasil dari sebuah  kehidupan yang penuh berkah.  Pasalnya, ia dikerjakan secara terus-menerus oleh penulisnya, baik ketika  berada di suatu tempat, dalam perjalanan pengembaraan, dalam situasi sulit    maupun lapang, serta melalui proses pengumpulan, penghafalan, penulisan ,  dan penyaringan yang ekstra ketat. Sehingga kitab ini sebagaimana Kita lihat ,merupakan sebuah kitab shahih yang teramat baik dan sistematis.  Oleh karena itu, tidak heran rasanya jika Imam Muslim sangat menyanjung  dan mengagungkan kitab monumentalnya.
            Sebagai wujud kegembiraan atas   karunia Allah yang diterimanya, beliau pernah bertutur “Apabila penduduk  bumi ini menulis hadits selama 200 tahun, maka usaha mereka hanya akan   berputar-putar disekitar kitab musnad ini.” Maksud beliau adalah kitab   Shahih Muslim itu. Adapun ketelitian,kecermatan, dan kehati-hatian beliau terhadap hadits  yang dituangkan dalam kitab Shahih-nya itu dapat disimak dari penuturan nya  sebagai berikut: “Aku tidak mencamtumkan sesuatu hadits dalam kitabku ini melain kan dengan  alasan. Aku juga tiada menggugurkan sesuatu hadits dari kitabku ini melainkan dengan alasan pula.”
      
Spesifikasi Shahih Muslim 
           Secara eksplisit, Imam Muslim tidak menegaskan syarat-syarat tertentu yang       diterapkan dalam kitab Shahih-nya. Kendati demikian, para ulama telah  menggali dan mengkaji syarat-syarat itu melalui penelitian yang serius  terhadap kitab itu. Penelitian dan pengkajian ini membuahkankesimpulan   bahwa syarat-syarat yang diterapkan Imam Muslim dalam kitabShahih-nya  adalah antara lain:  Pertama, beliau tidak meriwayatkan hadits kecuali dari para periwayat yang  adil, dlabith (kuat hafalan), dan dapat pertanggung jawabkan  kejujurannya. Kedua,beliau sama sekali tidak meriwayatkan hadits kecuali hadits-hadits  musnad (lengkap dengan sanad-nya), muttashil (sanad-nya  bersambung), dan     marfu' (berasal dari Nabi saw).    Keterangan Imam Muslim dalam muqaddimah kitab Shahih-nya akan lebih   memberikan gambaran yang cukup jelas kepada kita mengenaisyarat-syarat       yang diterapkan Imam Muslim dalam karya besarnya.
            Beliau mengklasifikasikan hadits menjadi tiga katagori :hadits -hadits  yang  diriwayatkan oleh rawi adil dan kuat hafalan; hadits-hadits yang  diriwayatkan oleh rawi yang tidak diketahui keadaannya (majhul al-hal) dan  sedang-sedang saja kekuatan hafalan dan ingatannya; hadits-hadits yang  diriwayatkan oleh rawi yang lemah (hafalan dan ingatan) dan rawi  yang   haditsnya ditinggalkan orang .
         Untuk hadits katagori ketiga, Imam Muslim tidak meriwayatkan dalam kitab Shahih -nya. Sementara apabila Imam Muslim meriwayatkan hadits katagori   pertama, beliau senantiasa menyertakan pula hadits katagori kedua.  Sebagai buah karya yang monumental, kitab Shahih Muslim memiliki beberapa   ciri khusus, di antaranya; beliau menghimpun matan-matan hadits yang s atu   tema lengkap dengan sanad-nya pada satu tempat (bab), tidak memisahkannya   dalam tempat yang berbeda, serta tidak mengulang - ulangnya, kecuali dalam   kondisi yang mengharuskan, seperti untuk menambah faedah padasanad atau  matan hadits.
         Ketelitian dan kecermatan dalam menyampaikan kata-kata selalu  dipertahankannya secara optimal, sehingga apabila seorang rawi berbeda   dengan rawi lain dalam penggunaan redaksi yang berbeda, padaha lmakna  (substansi) dan tujuannya sama —yang satu meriwayatkan dengansuatu  redaksi dan rawi lain meriwayatkan dengan redaksi yang lain pula—maka   dalam hal ini Imam Muslim menjelaskannya. Selain itu, beliau berusaha    Menampilkan hadits-hadits musnad (hadits yang sanad-nya Muttashil) dan marfu' (hadits yang dinisbahkan kepada Nabi saw).    Karenanya,beliau tidak  memasukkan perkataan-perkataan sahabat dan tabiin.  Imam Muslim juga tidak banyak meriwayatkan hadits muallaq (hadits yang  sanad-nya tidak ditulis secara lengkap). Di dalam kitab Shahih-nya hanya   memuat 12 Hadis muallaq yang kesemuanya difungsikan sebagai mutabi' atau penguat, bukan sebagai hadits utama (inti).
          Begitulah, akhirnya setelah mencapai usia 55 tahun, Imam Muslim Menghembuskan nafas yang terakhir pada Ahad sore, 25 Rajab 261 H.  Jenazahnya dikebumikan di salah satu daerah di luar Naisapur pada hari  Senin. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Semoga Allah merahmati dan  meridhainya, serta menerima jerih payahnya dalam menyebar luas- kan  ilmu-ilmu keislaman. Amin.

      Ali Mustofa Yaqub,   Pengasuh Pesantren Darus-Sunnah, Guru besar Ilmu Hadis Institut Ilmu       Al-Qur'an (IIQ) Jakarta

     back to top

 

 

 


Al Qur'an ini tidak dapat diungkap rahasia-rahasianya kecuali oleh orang-orang yang menjadikannya ajaran pertempuran dan berjihad dengan jihad dan besar. Mereka sajalah yang hidup dalam suasana itu, yang turun kepadanya Al Qur'an, karena mereka  menyadari dirinya berdialog langsung  dengan Al Qur'an sebagaimana  Al Qur'an berdialog dengan orang-orang  terdahulu (al-awwalun)
( Asy Syahid Sayyid Quthub )

back to top

[Home] [sejarah] [Kegiatan] [Agenda] [risalah] [AD-ART] [Organisasi] [Links] [Gallery]


Copyright (c) 1421 H, Remaja Islam   Darul Ma'arif (  RISDAM ) . All rights reserved.